Logo Masjid Jami Darussalamah
Ayo makmurkan dan jadikan masjid pusat peradaban

Sejarah

Sejarah

Narasi Sejarah Masjid Jami' Darussalamah: Sebuah Warisan Ibadah (1935 - Kini)

Masjid Jami' Darussalamah, yang kini berdiri kokoh di Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, adalah monumen keimanan yang berawal dari sebuah kisah inspiratif antara sepasang kakek dan nenek kami, yaitu Ibu Hj. Salimah dan Bapak H. Da’i.

Awal Pendirian dan Wakaf Pertama (1935)

Kisah berdirinya masjid ini dimulai ketika Bapak H. Da’i mengutarakan rencana beliau untuk menunaikan ibadah haji. Namun, dengan pandangan jauh ke depan, sang istri, Ibu Hj. Salimah, memberikan usulan yang penuh berkah: “Daripada pergi haji, lebih baik membangun masjid untuk anak cucu kita nantinya”.

Mengikuti nasihat bijak tersebut, niat haji Bapak H. Da’i dibatalkan. Sebagai gantinya, pada tahun 1935, beliau mewakafkan tanahnya seluas 950 m² untuk area masjid. Di atas tanah wakaf ini, dimulailah pembangunan masjid pertama di daerah yang saat itu dikenal sebagai Pondok Ranji (kini Bintaro Sektor 2), yang secara resmi diberi nama Masjid Jami’ Darussalamah.

Ekspansi dan Wakaf Kedua (1958)

Tonggak sejarah selanjutnya terjadi pada tahun 1958, ketika Masjid Jami' Darussalamah direnovasi di bawah kepemimpinan Bapak H.M. Idup bin H. Da’i selaku ketua masjid. Dalam semangat meneruskan warisan orang tuanya, beliau juga mewakafkan tanahnya seluas 2.150 m². Tambahan wakaf ini menjadikan luas area masjid keseluruhan bertambah pesat, mencapai $\pm$ 3.100 m².

Peningkatan Kapasitas dan Perombakan Total (1982 & 2001)

Seiring berjalannya waktu, jumlah jemaah terus bertambah hingga bangunan lama tidak lagi dapat menampung. Oleh karena itu:

  1. Tahun 1982: Bangunan masjid kembali diperbesar oleh cucu beliau, Bapak H. Nadjih bin H.M. Idup.
  2. Tahun 2001: Kepengurusan masjid beralih kepada Bapak H. Muchtar bin H.M. Idup. Atas permintaan ibunda beliau agar dibangunkan masjid yang tidak memakai genting, maka dengan persetujuan jemaah dan keluarga ahli waris, lokasi masjid dipindahkan ke sebelah utara.

Pada fase 2001, bangunan masjid dirombak total menjadi dua lantai dengan luas bangunan $\pm$ 1.500 m². Bangunan ini sengaja tidak memakai genting dan langsung dibuatkan kubah yang menutupi bangunan inti, sesuai dengan keinginan ibunda beliau.

Hingga saat ini, bangunan megah tersebut berdiri kokoh, mampu menampung $\pm$ 2.500 jemaah di lantai bawah dan atas, serta didukung oleh halaman yang luas yang dapat menampung parkiran hingga 30 mobil dan 200 motor. Sejarah singkat ini dirangkum dari cerita para ahli waris dan sesepuh setempat, menjadikan Masjid Jami' Darussalamah sebagai pusat ibadah yang makmur dan penuh berkah.